Jakarta — Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menegaskan komitmennya untuk terus mendukung dan memfasilitasi pembinaan atlet disabilitas di seluruh Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan merespons narasi yang sempat viral mengenai atlet tunarungu yang menggalang dana secara mandiri untuk mengikuti kejuaraan internasional, Rabu (2/9/2026).
Plt. Deputi Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Budi Ariyanto Muslim, menjelaskan mekanisme penyaluran pendanaan negara untuk kegiatan olahraga. Berdasarkan Undang-Undang Keolahragaan, pendanaan APBN hanya dapat disalurkan kepada organisasi yang secara resmi diakui oleh induk federasi internasional masing-masing.
Budi mengatakan Kemenpora mengikuti dan mencatat rencana keberangkatan atlet tunarungu ke Asia Pacific Deaf Multi-Sport Championship 2026 di Penang. Rencana keberangkatan tersebut diorganisir oleh Perhimpunan Olahraga Tunarungu Indonesia (Porturin).
Sementara itu, terkait status organisasi, khusus atlet tunarungu, federasi internasionalnya adalah International Committee of Sports for the Deaf (ICSD). Di Indonesia, organisasi yang diakui oleh ICSD adalah Indonesian Association of the Deaf Athlete atau Patrin.
“Berdasarkan aturan, hanya organisasi olahraga yang merupakan anggota federasi cabor internasional yang diakui dan bisa mendapatkan pendanaan dari pemerintah,” ujarnya
Budi menyayangkan narasi yang berkembang dan berharap seluruh pihak dapat bersama-sama mendukung pengembangan olahraga di Indonesia, termasuk olahraga bagi atlet disabilitas. Ia menegaskan Kemenpora terus berkomitmen memperkuat tata kelola olahraga disabilitas bersama NPC Indonesia.
“Tentu kami akan melakukan evaluasi secara objektif dan menyeluruh dengan berpedoman anggaran dasar ICSD serta peraturan perundang-undangan yang berlaku,” jelasnya.
Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Surono, menambahkan bahwa pemerintah bersama NPC Indonesia secara konsisten memberikan dukungan terhadap pembinaan olahraga disabilitas.
Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah pembangunan fasilitas latihan olahraga Paralympic Training Center Indonesia di Jawa Tengah.
“Pemerintah juga memberikan dukungan finansial pengiriman atlet di ajang ASEAN Para Games atau Asian Para Games. Bahkan juga penambahan bonus yang ditransfer langsung kepada para atlet yang berprestasi melalui kerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia,” pungkasnya.














