JAKARTA – Keputusan Malaysia sebagai tuan rumah SEA Games 2027 yang tidak memasukkan sejumlah cabang olahraga unggulan Indonesia menuai sorotan. Kebijakan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai prinsip keadilan dan kesetaraan bagi seluruh negara peserta dalam penyelenggaraan pesta olahraga Asia Tenggara.
Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Sambo Indonesia (PP Persambi) sekaligus Komite Eksekutif NOC Indonesia, Krisna Bayu, menilai persoalan ini tidak semata-mata berkaitan dengan pengurangan cabang olahraga maupun nomor pertandingan. Menurutnya, keputusan tersebut juga menyangkut nasib atlet, keberlanjutan pembinaan olahraga, serta martabat negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
Ia mempertanyakan apakah perubahan program pertandingan setiap kali tuan rumah berganti telah benar-benar mempertimbangkan kepentingan seluruh negara peserta.
“SEA Games dibangun untuk persahabatan, solidaritas, persaingan sehat, dan semangat fair play. Bukan untuk menjadi panggung yang lebih menguntungkan kepentingan tuan rumah,” ujar Krisna dalam keterangannya.
Krisna juga menyoroti tanggung jawab Malaysia sebagai tuan rumah serta peran Federasi Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEAGF) dalam menetapkan program pertandingan. Ia mempertanyakan langkah yang perlu ditempuh Indonesia untuk menyikapi keputusan tersebut, termasuk kemungkinan boikot dan perlunya reformasi di tubuh SEAGF.
“Apakah Indonesia perlu mengambil sikap tegas? Apakah boikot menjadi pilihan? Ataukah sudah waktunya SEAGF melakukan reformasi besar-besaran?” katanya.
Sebelumnya, NOC Indonesia turut menyoroti potensi kerugian bagi atlet nasional akibat tidak dipertandingkannya sejumlah cabang olahraga unggulan. Di antaranya panjat tebing, dayung, dan voli pantai yang selama ini menjadi salah satu andalan Indonesia dalam perolehan medali.
Selain itu, nomor beregu putra dan putri cabang bulu tangkis juga dipastikan tidak masuk dalam program pertandingan SEA Games 2027.
Berdasarkan keputusan rapat Executive Committee SEAGF pada 30 Oktober 2026, SEA Games ke-34 dijadwalkan mempertandingkan 473 nomor dari 43 cabang olahraga. Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan SEA Games Thailand 2025 yang menyelenggarakan sekitar 50 cabang olahraga dengan total 573 nomor pertandingan.
Sejumlah cabang olahraga lain yang tidak tercantum dalam daftar pertandingan di antaranya gulat, catur, jujitsu, kickboxing, bola tangan, dan triathlon.
Krisna menegaskan bahwa pembahasan mengenai SEA Games 2027 seharusnya tidak hanya berorientasi pada peluang perolehan medali setiap negara. Ia meminta agar kepentingan atlet dan masa depan olahraga Asia Tenggara turut menjadi pertimbangan dalam setiap keputusan.
“Jangan hanya melihat persoalan ini dari jumlah medali. Mari bicara tentang keadilan bagi atlet dan masa depan olahraga Asia Tenggara,” pungkasnya.














