Oleh: Herianto
Eks Koordinator Pusat BEM SI
Beberapa hari terakhir, saya banyak merenung tentang kondisi bangsa ini. Di tengah derasnya arus informasi dan tingginya intensitas perdebatan publik, ada satu hal yang terus mengusik pikiran saya: kita perlahan kehilangan kemampuan untuk berdialog secara sehat.
Ruang publik hari ini terasa semakin bising. Media sosial dipenuhi perdebatan tanpa ujung, ruang diskusi kerap berubah menjadi arena saling serang, dan perbedaan pendapat semakin sering melahirkan permusuhan. Kritik yang semestinya menjadi instrumen perbaikan justru acap kali berubah menjadi alat untuk saling menjatuhkan.
Kita seperti hidup di tengah polarisasi yang semakin tajam. Di satu sisi, kritik terhadap pemerintah kerap dianggap sebagai ancaman. Di sisi lain, ada kelompok yang sejak awal menempatkan pemerintah sebagai pihak yang selalu salah. Dua kutub ini sama-sama berbahaya karena menutup ruang objektivitas.
Padahal, Indonesia tidak dibangun di atas fondasi kebencian. Republik ini lahir dari gagasan-gagasan besar yang tumbuh melalui perdebatan panjang, keras, dan tajam, tetapi tetap dilandasi penghormatan terhadap perbedaan.
Karena itu, kita perlu kembali menghidupkan cara berpikir kenegarawanan. Kita harus mampu membedakan kritik yang lahir dari kepedulian terhadap bangsa dengan kegaduhan yang sengaja diciptakan demi kepentingan tertentu.
Dalam konteks hari ini, tantangan yang dihadapi Indonesia tidaklah ringan. Di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, bangsa ini berada di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Gejolak ekonomi dunia, konflik geopolitik, hingga persaingan global yang semakin keras menuntut bangsa ini memiliki daya tahan yang kuat.
Di tengah situasi seperti itu, persatuan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Namun persatuan yang sehat bukanlah persatuan yang membungkam kritik. Justru, bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas dan kebebasan berpendapat.
Pemerintah harus terus membuka ruang untuk mendengar suara rakyat. Namun masyarakat, khususnya mahasiswa dan generasi muda, juga harus memastikan bahwa kritik yang disampaikan lahir dari nalar, data, dan tanggung jawab moral.
Mahasiswa sejak dulu dikenal sebagai kekuatan moral bangsa. Tetapi kekuatan moral tidak lahir dari sekadar teriakan keras atau amarah sesaat. Kekuatan moral tumbuh dari kedalaman berpikir, keberanian bersikap, dan keteguhan menjaga integritas.
Saya melihat tantangan generasi hari ini bukan lagi pada akses informasi, melainkan pada kemampuan menyaring informasi. Kita hidup di era ketika opini sering tampil sebagai kebenaran, viralitas dianggap sebagai validitas, dan popularitas kerap mengalahkan substansi.
Akibatnya, banyak isu kompleks yang dipersempit menjadi narasi sederhana demi kepentingan algoritma. Perjuangan terkadang direduksi menjadi sekadar konten. Aktivisme sering kali berhenti pada tagar dan trending topic.
Ini adalah tantangan serius.
Gerakan mahasiswa dan anak muda hari ini sedang berada di persimpangan jalan: tetap berdiri di atas fondasi intelektual atau terseret arus politik viral.
Meski demikian, saya tetap optimistis. Saya masih melihat banyak anak muda yang bergerak dengan cara yang cerdas dan progresif. Mereka hadir melalui riset, kajian kebijakan, gerakan berbasis data, serta berbagai inisiatif yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Hal ini membuktikan bahwa teknologi dan media sosial bukanlah ancaman. Keduanya hanyalah alat. Dampaknya akan sangat bergantung pada siapa yang menggunakannya dan untuk tujuan apa.
Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa keras kita berdebat, tetapi oleh seberapa dewasa kita menyikapi perbedaan.
Kita boleh berbeda pilihan politik. Kita boleh berbeda cara pandang. Namun kita tidak boleh kehilangan tujuan bersama sebagai sebuah bangsa.
Indonesia membutuhkan lebih banyak kebijaksanaan, bukan kebencian. Lebih banyak gagasan, bukan sekadar kegaduhan.
Mari menjadi generasi yang berani mengkritik ketika negara salah, tetapi juga adil untuk mengapresiasi ketika negara berada di jalur yang benar.
Karena pada akhirnya, kecintaan terhadap Indonesia tidak diukur dari kerasnya suara, melainkan dari nyata atau tidaknya kontribusi bagi bangsa.
Mari jaga Indonesia. Mari rawat demokrasi. Mari pastikan ruang publik kita tetap menjadi ruang yang sehat untuk berpikir, berdiskusi, dan membangun masa depan bersama.














