Depok – Di tengah perubahan lanskap demokrasi dan pesatnya perkembangan teknologi informasi, organisasi mahasiswa dituntut untuk semakin adaptif dalam merespons dinamika zaman. Gerakan mahasiswa dinilai perlu memperkuat pendekatan berbasis data, riset, dan solusi konkret agar tetap relevan serta mampu memberi kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.
Pandangan tersebut disampaikan Peneliti Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI), Fathan Putra Mardela, saat menjadi pemateri pada kegiatan Intermediate Training (LK II) Tingkat Nasional Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Jakarta Raya yang diselenggarakan Koordinator Komisariat HMI Universitas Negeri Jakarta di Balai Pusat Pelatihan Bisnis dan Pariwisata Kemendikdasmen, Sawangan, Depok, Sabtu (4/7/2026).
Pada kesempatan tersebut, Fathan membawakan materi bertajuk Mahasiswa sebagai Pressure Group di Era Digital.
Menurut Fathan, era digital telah membuka ruang partisipasi publik yang jauh lebih luas. Namun, perkembangan tersebut juga melahirkan tantangan baru karena opini publik semakin mudah terbentuk dan dipengaruhi oleh arus informasi yang bergerak sangat cepat.
“Organisasi mahasiswa harus memiliki kapasitas intelektual yang kuat untuk membaca persoalan bangsa secara objektif dan komprehensif,” ujar Fathan.
Ia menegaskan bahwa gerakan mahasiswa tidak cukup hanya berhenti pada kritik atau mobilisasi massa semata. Menurutnya, gerakan yang relevan adalah gerakan yang mampu menawarkan argumentasi yang kuat dan solusi yang dapat diterjemahkan dalam kebijakan publik.
“Gerakan yang berdampak adalah gerakan yang mampu menghadirkan data, analisis objektif, serta solusi konkret bagi persoalan masyarakat,” katanya.
Fathan juga menyoroti kecenderungan sebagian gerakan mahasiswa yang terlalu berorientasi pada popularitas di ruang digital. Menurutnya, viralitas di media sosial tidak selalu berbanding lurus dengan pengaruh terhadap perubahan kebijakan.
“Viralitas bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah bagaimana gagasan yang diperjuangkan mampu memengaruhi arah kebijakan melalui argumentasi yang kuat, legitimasi ilmiah, dan konsolidasi organisasi yang matang,” tegasnya.
Sebagai organisasi kader, Himpunan Mahasiswa Islam dinilai memiliki modal historis, intelektual, dan jaringan yang kuat untuk terus menjadi mitra kritis sekaligus konstruktif dalam kehidupan demokrasi Indonesia.
Karena itu, Fathan menilai tradisi riset harus menjadi fondasi utama dalam setiap gerakan organisasi.
Menurutnya, budaya ilmiah bukan hanya soal kemampuan membaca literatur, tetapi juga mencakup kejujuran terhadap data, kapasitas analisis kebijakan, dan keberanian menyampaikan fakta secara objektif.
“Kader HMI harus jujur terhadap data. Jangan sampai statistik dimanipulasi atau fakta dipilih secara selektif hanya untuk memperkuat posisi tertentu. Kejujuran ilmiah adalah fondasi moral sebuah gerakan,” jelasnya.
Dalam pemaparannya, Fathan turut memperkenalkan konsep Ideopolstratak (Ideologi, Politik, Organisasi, Strategi, dan Taktik) sebagai kerangka membangun gerakan mahasiswa yang lebih efektif dan terarah.
Ia menjelaskan bahwa ideologi berfungsi sebagai kompas nilai, organisasi sebagai infrastruktur perjuangan, sementara strategi dan taktik menjadi instrumen untuk mengubah gagasan menjadi pengaruh yang nyata.
Selain itu, Fathan menilai penguasaan teknologi digital menjadi kebutuhan penting dalam memperkuat gerakan intelektual mahasiswa di era modern.
Pemanfaatan media digital, menurutnya, harus diarahkan untuk meningkatkan literasi publik, menyebarluaskan hasil riset, memperluas jejaring kolaborasi, serta membangun komunikasi yang produktif dengan para pemangku kepentingan.
Lebih lanjut, ia mengajak kader HMI untuk menjadikan organisasi sebagai ruang pembelajaran kepemimpinan strategis yang mampu melahirkan generasi pemimpin dengan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan solutif.
“Gerakan mahasiswa akan semakin relevan ketika mampu memadukan idealisme, integritas, kapasitas akademik, dan kemampuan menghadirkan solusi,” ujarnya.
Menutup pemaparannya, Fathan menegaskan bahwa Himpunan Mahasiswa Islam memiliki tanggung jawab besar untuk terus melahirkan kader yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.
“Sudah saatnya gerakan mahasiswa memperkuat tradisi riset, memperkokoh organisasi, dan menghadirkan gagasan yang solutif. Dari sanalah lahir kontribusi nyata bagi pembangunan nasional dan penguatan demokrasi Indonesia,” pungkasnya.












