JAKARTA — Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir mengajak seluruh jajaran Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) serta para pemangku kepentingan di daerah untuk melakukan transformasi mendasar dalam pembangunan sektor kepemudaan dan keolahragaan.
Menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda dan menghadapi puncak bonus demografi, sektor pemuda dan olahraga dinilai harus mendapat perhatian lebih besar. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci untuk meningkatkan peran kedua sektor tersebut dalam pembangunan nasional.
Arahan itu disampaikan Erick Thohir dalam Forum Nasional Transformasi Kebijakan Kepemudaan dan Keolahragaan di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (15/10) pagi. Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), kepala dinas, serta pimpinan Dispora dari berbagai daerah di Indonesia.
Erick menekankan perlunya perubahan cara pandang terhadap tugas Dispora di daerah. Menurutnya, tanggung jawab dinas tidak seharusnya hanya berfokus pada olahraga, tetapi juga mencakup pengembangan potensi generasi muda.
Dengan sekitar 130 juta penduduk Indonesia berusia di bawah 30 tahun, pembangunan kepemudaan perlu ditempatkan sebagai salah satu prioritas utama. Potensi tersebut harus diimbangi dengan kebijakan yang mampu memperluas kesempatan, meningkatkan kapasitas, dan mendorong kemandirian generasi muda.
Untuk memperkuat sektor kepemudaan, Kemenpora menyiapkan sejumlah langkah transformatif, termasuk penguatan landasan hukum dan penyempurnaan regulasi kepemudaan. Salah satunya melalui dorongan percepatan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kepemudaan agar urusan pemuda menjadi bagian dari tugas pokok dan fungsi yang terintegrasi hingga tingkat daerah.
Kemenpora juga mendorong penataan organisasi dan regenerasi kepemimpinan Organisasi Kepemudaan (OKP). Upaya tersebut mencakup penertiban perpecahan dalam Organisasi Kemasyarakatan Pemuda melalui verifikasi bersama Kementerian Hukum, serta pembahasan batasan usia pemuda dan pembatasan periode kepemimpinan organisasi.
Di sisi lain, Kemenpora menyiapkan cetak biru pembangunan kepemudaan melalui berbagai program, seperti peluncuran Career Hub, perluasan program magang bersama BUMN dan sektor swasta, serta Wirausaha Youth Camp. Ruang berekspresi bagi anak muda juga akan diperluas, termasuk dalam isu kesehatan mental, ekonomi hijau, dan teknologi.
Dorong Olahraga sebagai Investasi Ekonomi
Dalam sektor keolahragaan, Erick mengajak pemerintah daerah mengubah pola pikir dengan menempatkan olahraga sebagai investasi yang memberikan manfaat bagi perekonomian, kesehatan masyarakat, dan pembentukan karakter bangsa.
Ia menilai potensi industri olahraga dan wisata olahraga atau sport tourism di Indonesia masih sangat besar. Potensi industri olahraga global diperkirakan mencapai Rp8.000 triliun, sedangkan Indonesia baru menggarap sekitar Rp40 triliun atau 0,5 persen dari angka tersebut.
Karena itu, pemerintah daerah didorong untuk mengoptimalkan potensi olahraga yang dimiliki wilayah masing-masing. Pengembangan sport tourism, seperti MotoGP Mandalika yang disebut memiliki dampak ekonomi mencapai Rp5,2 triliun, serta potensi wisata selancar di berbagai daerah, dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Erick juga menyoroti pentingnya pengelolaan fasilitas olahraga agar tidak terbengkalai maupun terus membebani anggaran pemeliharaan daerah. Untuk itu, Kemenpora bersama Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian UMKM telah menerbitkan landasan kebijakan melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri.
“Pemerintah daerah didorong melakukan Kerjasama Operasional (KSO) dengan pihak swasta atau klub olahraga secara transparan tanpa menghilangkan aset daerah,” ujarnya.
Selain pengelolaan fasilitas, Erick mengajak pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan untuk mengaktifkan kegiatan olahraga masyarakat, seperti Car Free Day (CFD), di 514 kabupaten/kota. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berolahraga, membantu menekan beban anggaran kesehatan daerah, serta membangun kedisiplinan generasi muda.
Perhatian terhadap keberlanjutan karier atlet juga menjadi bagian dari transformasi yang didorong Kemenpora. Erick mendorong program sertifikasi bagi mantan atlet disabilitas agar mereka tetap memiliki kesempatan untuk berkarya dan mengajar di sekolah-sekolah khusus.
Menutup arahannya, Erick menegaskan bahwa transformasi sektor pemuda dan olahraga membutuhkan komitmen bersama antara pemerintah pusat dan daerah.
“Saya bisa, Bapak dan Ibu di daerah juga pasti harus bisa. Mari kita bangun perspektif baru bahwa sektor Pemuda dan Olahraga adalah prioritas. Antara pemerintah pusat dan daerah kita harus saling mendukung untuk menciptakan perubahan besar bagi bangsa ini,” tegas Erick Thohir.














