Jakarta – Koordinator Nasional Kawan Indonesia, Arief Darmawan, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih bijak dan proporsional dalam menyikapi berbagai konten maupun film dokumenter yang mengangkat realitas sosial di Papua, termasuk film Pesta Babi yang belakangan menjadi perhatian publik.
Menurut Arief, pengangkatan isu Papua di ruang publik merupakan bagian dari kebebasan berekspresi sekaligus bentuk kepedulian sosial. Namun, narasi yang dibangun perlu mengedepankan keseimbangan, empati, serta tanggung jawab agar tidak menimbulkan stigma ataupun memperlebar jarak sosial terhadap masyarakat Papua.
“Papua harus dilihat secara utuh, bukan hanya dari sisi konflik maupun keterbatasannya semata. Papua memiliki kekayaan budaya, semangat persaudaraan, dan potensi besar untuk terus tumbuh maju bersama Indonesia,” ujar Arief Darmawan dalam keterangannya kepada wartawan, Jumat (29/5/2026).
Ia menilai, masyarakat perlu mencermati secara kritis berbagai narasi yang berkembang di ruang publik agar tidak secara tidak sadar membentuk persepsi yang bias maupun memicu kesalahpahaman sosial.
“Informasi apa pun, termasuk yang berkaitan dengan Papua, harus dipahami secara jernih dan berimbang. Jangan sampai narasi yang berkembang justru memperkuat stereotip negatif atau menciptakan sekat sosial di tengah masyarakat,” katanya.
Arief menegaskan, di tengah posisi Indonesia yang terus tumbuh sebagai salah satu kekuatan ekonomi baru di kawasan Asia, persatuan nasional menjadi modal penting yang harus dijaga bersama.
“Indonesia sedang bergerak menuju kemajuan besar. Karena itu, masyarakat harus semakin bijak dalam menyikapi berbagai isu agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran generasi muda, khususnya Generasi Z dan anak-anak muda Papua, untuk menjadi generasi yang kritis, terbuka, serta mampu memilah informasi secara sehat di era digital.
“Generasi muda Papua harus tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, adaptif, dan mampu melihat persoalan secara objektif. Jangan sampai ruang digital justru dimanfaatkan untuk membangun pesimisme ataupun rasa saling curiga,” tambahnya.
Lebih lanjut, Arief menilai Papua membutuhkan lebih banyak ruang dialog yang konstruktif, penguatan pendidikan, pembangunan sumber daya manusia, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dibandingkan narasi yang hanya menonjolkan sisi konflik.
“Papua adalah bagian penting dari masa depan Indonesia. Yang perlu diperkuat adalah optimisme, pembangunan, dan semangat persaudaraan agar masyarakat Papua dapat tumbuh maju, bermartabat, dan semakin sejajar dengan daerah lain di Indonesia,” pungkasnya.














