Bogor – Demisioner Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bogor periode 2024/2025, Fathan Putra Mardela, mengajak seluruh kader HMI memperkuat komitmen keislaman, intelektualitas, dan kebangsaan sebagai fondasi menjaga persatuan sekaligus menghadirkan masa depan Indonesia yang lebih adil, maju, dan bermartabat.
Pesan tersebut disampaikan Fathan saat memberikan sambutan dalam Pelantikan Pengurus HMI Cabang Bogor periode 2026/2027. Ia menegaskan bahwa HMI harus tetap menjadi rumah kaderisasi yang melahirkan insan akademis, pencipta, pengabdi, serta pemimpin yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai keislaman dan kebangsaan.
“Ber-HMI adalah sedekah kebangsaan. Sedekah yang diwujudkan melalui ilmu, gagasan, pengabdian, serta keberanian moral untuk memastikan Indonesia tetap berdiri di atas nilai keadilan, persatuan, dan kemanusiaan,” ujar Fathan.
Menurutnya, sejak didirikan oleh Lafran Pane, HMI tidak pernah memisahkan antara keislaman dan kebangsaan. Keduanya merupakan tanggung jawab moral yang berjalan beriringan dalam menghadirkan kemaslahatan umat sekaligus kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.
Fathan menegaskan bahwa menjadi muslim yang baik harus diwujudkan melalui tanggung jawab sebagai warga negara yang peduli terhadap keadilan, kemanusiaan, persatuan, dan kemajuan bangsa.
“Keislaman yang sejati melahirkan kepedulian terhadap sesama serta tanggung jawab untuk menghadirkan kemajuan bersama. Karena itu, mencintai Indonesia bukan sekadar pilihan kebangsaan, tetapi amanah moral yang harus ditunaikan,” katanya.
Ia menilai Indonesia sejatinya tidak kekurangan sumber daya, talenta, maupun potensi. Namun, bangsa ini membutuhkan lebih banyak generasi yang mampu menjaga persatuan, merawat kepercayaan publik, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok maupun golongan.
“Bangsa yang besar bukan bangsa tanpa perbedaan, melainkan bangsa yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan untuk mencapai tujuan bersama,” tegasnya.
Dalam sambutannya, Fathan turut membagikan refleksi pengalamannya saat belajar dan berinteraksi dengan masyarakat di Papua. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran penting tentang makna kebangsaan dan pentingnya kehadiran negara secara nyata bagi masyarakat.
“Di Papua saya belajar bahwa kebangsaan bukan hanya soal simbol dan slogan. Negara harus hadir tidak hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui keadilan, pendidikan berkualitas, pelayanan kesehatan yang layak, rasa aman, dan penghormatan terhadap martabat manusia,” ungkapnya.
Pengalaman itu semakin memperkuat keyakinannya bahwa Indonesia harus dicintai melalui kerja nyata, pengabdian, integritas, serta keberanian memperjuangkan kepentingan rakyat.
“Indonesia terlalu besar untuk dicintai dengan cara yang dangkal. Tidak cukup hanya melalui simbol, slogan, atau unggahan media sosial, tetapi harus diwujudkan melalui kerja nyata dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Fathan juga mengingatkan kader HMI agar tidak terjebak dalam apa yang disebutnya sebagai fomo-isme gerakan, yakni kecenderungan bergerak hanya karena mengikuti isu yang sedang ramai tanpa pemahaman yang utuh dan pijakan nilai yang kuat.
Menurutnya, gerakan mahasiswa harus dibangun di atas ilmu pengetahuan, analisis mendalam, keberanian moral, serta orientasi kemaslahatan. HMI, kata dia, tidak boleh sekadar mengikuti arus, tetapi harus mampu menunjukkan arah.
“HMI tidak boleh bergerak karena takut tertinggal isu. HMI harus bergerak karena nilai. Gerakan yang lahir dari keramaian akan berakhir bersama keramaiannya, tetapi gerakan yang lahir dari nilai akan tetap hidup karena berpijak pada tanggung jawab dan kebenaran,” katanya.
Di sisi lain, Fathan turut mengapresiasi berbagai upaya penguatan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi yang terus dilakukan negara. Menurutnya, langkah membersihkan negara dari praktik korupsi dan penyalahgunaan kewenangan merupakan bagian penting dalam memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan bangsa tidak hanya berasal dari korupsi atau ketimpangan pembangunan, tetapi juga dari polarisasi sosial, meningkatnya permusuhan di ruang publik, serta menguatnya kepentingan jangka pendek di atas kepentingan nasional.
“Hari ini Indonesia membutuhkan lebih banyak jembatan daripada tembok, lebih banyak dialog daripada permusuhan, dan lebih banyak solusi daripada provokasi. Tidak ada pembangunan, kemajuan, maupun kesejahteraan yang dapat dicapai tanpa persatuan bangsa,” tegasnya.
Kepada pengurus HMI Cabang Bogor yang baru dilantik, Fathan menitipkan tiga agenda utama, yakni memperkuat perkaderan, menghidupkan tradisi intelektual, serta menjaga orientasi keumatan dan kebangsaan.
Menurutnya, perkaderan merupakan jantung organisasi, sementara tradisi intelektual menjadi ruh yang menjaga HMI tetap relevan sebagai kekuatan moral dan intelektual bangsa.
Ia berharap HMI terus melahirkan kader yang unggul secara akademik, kokoh secara spiritual, matang secara moral, serta mampu menjadi pelayan umat dan penggerak kemajuan bangsa.
Menutup sambutannya, Fathan kembali mengingatkan tujuan besar HMI, yakni terbinanya insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridai Allah SWT.
“Hijau-hitam bukan sekadar warna organisasi, melainkan amanah perjuangan. Tugas kader HMI bukan hanya menjadi saksi sejarah, tetapi ikut bertanggung jawab menulis masa depan bangsa. Dari HMI untuk Indonesia, mari menjaga persatuan, memperkuat keadilan, dan memastikan negara hadir hingga ke tempat-tempat yang jauh dari pusat kekuasaan,” pungkasnya.














