Akademisi IAIN Kendari, La Ode Anhusadar, menegaskan bahwa Hari Lahir Pancasila 2026 harus dimaknai sebagai momentum memperkuat karakter generasi muda di tengah derasnya arus informasi digital yang semakin kompleks. Ia mengingatkan agar anak muda tidak mudah terjebak dalam propaganda negatif, disinformasi, maupun narasi pesimisme yang dapat melemahkan persatuan bangsa.
Menurut La Ode, tantangan bangsa saat ini tidak hanya berkaitan dengan pembangunan ekonomi maupun dinamika politik, tetapi juga menyangkut kualitas literasi masyarakat dalam memilah informasi yang benar di era digital.
“Kita sedang hidup di tengah banjir informasi. Sayangnya, tidak semua informasi dibangun berdasarkan fakta. Ada yang sengaja diproduksi untuk menggiring opini, memperkuat prasangka, bahkan menciptakan ketidakpercayaan terhadap sesama warga bangsa maupun institusi negara,” ujarnya dalam keterangannya, Senin (1/6/2026).
Ia mengatakan, perkembangan teknologi digital memang membuka ruang demokrasi yang lebih luas, namun di saat bersamaan juga menghadirkan tantangan serius berupa maraknya informasi yang belum terverifikasi.
Menurutnya, masyarakat perlu semakin kritis terhadap berbagai narasi yang beredar, termasuk konten yang mengatasnamakan kritik sosial ataupun dokumenter.
La Ode menyinggung polemik film dokumenter Pesta Babi yang menuai perhatian publik karena adanya keberatan dari sejumlah pihak yang merasa tidak memperoleh ruang klarifikasi secara proporsional.
“Setiap karya yang dikonsumsi publik, apalagi yang mengangkat isu sosial sensitif, semestinya menjunjung prinsip verifikasi, keberimbangan, dan tanggung jawab etik. Kritik itu penting dalam demokrasi, tetapi kritik harus dibangun di atas fakta yang teruji, bukan asumsi atau narasi sepihak,” katanya.
Ia menegaskan bahwa dalam tradisi akademik, verifikasi merupakan prinsip fundamental untuk memastikan informasi tidak berubah menjadi disinformasi yang justru merugikan masyarakat.
“Persoalannya bukan soal boleh atau tidaknya kritik. Demokrasi tentu menjamin kebebasan berpendapat. Tetapi yang perlu dijaga adalah kualitas kritik itu sendiri—apakah disampaikan secara objektif, memberi ruang konfirmasi, dan bertujuan memperbaiki keadaan,” ujarnya.
La Ode juga mengingatkan bahaya narasi pesimisme yang terus-menerus menggambarkan bahwa seluruh kebijakan negara selalu gagal dan tidak ada hal baik yang bisa dicapai bangsa.
Menurut dia, pola pikir semacam itu dapat melahirkan keputusasaan sosial, terutama di kalangan generasi muda.
“Bangsa ini membutuhkan kritik yang membangun, bukan narasi yang membuat masyarakat kehilangan harapan. Pancasila mengajarkan gotong royong, musyawarah, dan semangat memperbaiki persoalan bersama, bukan saling menjatuhkan atau menebar prasangka,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa demokrasi Pancasila pada dasarnya dibangun di atas nilai kemanusiaan, penghormatan terhadap martabat setiap orang, serta tanggung jawab moral dalam menggunakan kebebasan.
“Kebebasan berekspresi harus berjalan beriringan dengan etika. Kritik boleh keras, tetapi tetap harus beradab, berbasis data, dan bertujuan menghadirkan solusi,” jelasnya.
Di momentum Hari Lahir Pancasila, La Ode mengajak generasi muda menjadi kelompok yang tidak hanya kritis, tetapi juga optimistis terhadap masa depan Indonesia.
“Generasi muda harus cerdas memilah informasi, berani berpikir kritis, namun tetap memiliki optimisme terhadap bangsanya. Jangan mudah terbawa propaganda yang menumbuhkan kebencian atau rasa putus asa. Masa depan Indonesia dibangun oleh generasi yang berpikir jernih dan mau bekerja sama,” pungkasnya.














